Jasa Pembuatan Website: Yang Jarang Dibocorin ke Pemula Tapi Nentuin Hasil Akhir

 Gue langsung to the point aja.

Kalau lo lagi nyari jasa pembuatan website, kemungkinan besar lo lagi capek muter-muter lihat portfolio yang semuanya keliatan mirip—tapi harganya beda jauh. Ada yang 500 ribu, ada yang 3 juta, ada yang 20 juta. Dan di titik ini, banyak orang mulai mikir:

“Bedanya apa, sih? Emang kalau bayar lebih mahal hasilnya beneran beda?”

Gue ngerti karena… ya, gue pernah di situ. Bahkan lebih parah: gue dulunya yang masuk jebakan “harga murah tapi akhirnya ribet” sebelum akhirnya benar-benar paham apa yang penting dan apa yang cuma gimmick.

Dan, sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di SEO dan web development, gue cukup sering lihat website yang secara teori bagus, tapi secara lapangan jelek—karena nggak ngerti search intent, struktur, dan fondasi websitenya.

Jadi artikel ini bukan teori.
Ini panduan dari orang yang sudah pernah kena zonk, pernah lihat trik-trik vendor, dan akhirnya tau apa yang harus dilihat sebelum bayar satu rupiah pun.

“Gue Butuh Website, Tapi Takut Salah Pilih Vendor.” Ini Masalah Paling Umum

Coba gue lempar pertanyaan yang biasanya muncul:

  • “Berapa sih harga wajar untuk jasa buat website? Jangan sampai kemahalan.”

  • “Yang murah boleh, tapi jangan hasilnya kayak template gratis.”

  • “Gue butuh website yang bisa ranking Google.”

  • “Gue bukan orang teknis, takutnya nanti setelah jadi malah bingung pakai.”

Dan satu pertanyaan pamungkas:

“Gimana cara bedain vendor yang bagus sama yang cuma jual template jadi?”

Ini pertanyaan valid.
Karena fakta pahitnya: 90% jasa bikin website itu cuma tukang pasang template. Beneran. Gue bilang gini bukan buat ngejelekin mereka, tapi karena kenyataan lapangan memang begitu.

Website jadi? Iya.
Website bagus? Nggak selalu.
Website yang siap bisnis? Jarang.

Yang bikin makin sengsara: orang baru biasanya nggak ngerti apa yang harus dia cek.

“Kenapa Harga Jasa Pembuatan Website Bisa Beda Jauh?”

Gue jawab pakai analogi paling gampang.

Bayangin lo beli nasi goreng.

  • Ada yang 15 ribu di tukang gerobak

  • Ada yang 40 ribu di resto mall

  • Ada juga yang 250 ribu di hotel bintang lima

Semua namanya nasi goreng… tapi pengalaman & kualitasnya beda total.

Website juga begitu.
Nama jasanya sama: jasa bikin website wordpress.
Tapi kualitas pondasinya, codingnya, performanya, SEO-nya, dan maintenance-nya beda jauh.

Berikut hal yang bikin harga melambung atau anjlok:

1. Website template vs website profesional

Template oke buat cepat, tapi biasanya:

  • berat

  • struktur nggak SEO-friendly

  • susah dikembangkan

  • desainnya “pasaran”

Website profesional biasanya dibuat:

  • berdasarkan goal bisnis

  • optimasi performa

  • struktur SEO

  • UX yang bener

Ini aja sudah beda dunia.

2. SEO dieksekusi atau cuma dijanjikan?

Ini sensitif.
Karena vendor website sering banget bilang:

“Tenang kak, websitenya otomatis SEO.”

Padahal enggak.
Yang otomatis cuma title dan URL doang. Sisanya manual.

Di real battle SEO, yang penting itu:

  • struktur heading

  • schema

  • interlink

  • optimasi gambar

  • layout content

  • kecepatan

  • crawlability

Tanpa ini semua, website cuma jadi brosur digital, bukan aset pencari cuan.

3. After-sales service: ada atau cuma di awal doang?

Ini termasuk:

  • bantuan revisi

  • training penggunaan dashboard

  • update keamanan

  • backup

  • maintenance

Yang murah biasanya model: “Habis jadi, ya udah.”
Yang mahal biasanya: “Kita urus sampai lo bisa pakai.”

“Apa Website Murah Selalu Jelek?” Nggak. Tapi Ada Risiko yang Perlu Lo Tahu

Gue bukan tipe orang yang anti website murah.
Kadang memang budget terbatas, dan itu bukan masalah. Tapi yang harus lo sadari:

murah = lebih banyak kerjaan manual di pihak lo

Contoh:

  • lo yang harus nyiapin konten sendiri

  • lo yang harus upload gambar sendiri

  • lo yang harus atur plugin sendiri

  • lo yang harus belajar SEO sendiri

  • lo yang harus troubleshoot error sendiri

Kalau lo tipe “gue bisa belajar sambil jalan”, go ahead.
Tapi kalau lo sibuk atau gaptek, lo bakal boncos waktu & tenaga.

Pengalaman lapangan gue:

Yang lebih fatal bukan website murahnya.
Yang fatal itu: ekspektasi nggak cocok sama layanan.

Pertanyaan yang Harus Lo Tanyain Sebelum Pakai Jasa Bikin Website

(Sebagian besar orang nggak tau poin ini)

Gue kasih daftar yang biasa gue pake sendiri kalau lagi ngeaudit vendor:

1. “Website gue nanti bisa di-upgrade?”

Kalau jawabannya “nggak bisa”, skip.

2. “Speed websitenya di bawah 2 detik?”

Ini wajib.
Google benci website lelet.

3. “Template atau custom?”

Template bukan dosa, tapi lo harus tau.

4. “Ada setup SEO dasar?”

SEO dasar itu:

  • meta title

  • meta description

  • heading structure

  • alt image

  • schema dasar

  • sitemap

  • robots.txt

Kalau vendor bingung apa itu schema → red flag.

5. “Hostingnya gimana?”

Hosting itu pondasi.
Hosting murah = website sering down.

“Gue Butuh Website Yang Bisa Ranking Google. Apa Harus Mahal?”

Jawaban jujur: nggak harus mahal, tapi harus bener.

Sebagai praktisi SEO, gue ngeliat pola:

  • website murah yang “bisa ranking” biasanya karena niche mudah

  • website mahal yang nggak ranking biasanya karena salah strategi, bukan salah websitenya

Ranking itu kombinasi:

  • kualitas konten

  • struktur website

  • kecepatan

  • backlink

  • search intent

  • usia domain

  • kompetitor

Website cuma satu komponen.
Tapi kalau webnya dari awal sudah salah struktur… kesempatan ranking langsung turun.

Catatan Editorial:

Secara teori Google bilang “desain nggak mempengaruhi ranking”.
Di lapangan?
Desain yang buruk bikin UX jelek → bounce rate tinggi → turun ranking.
Jadi teori dan praktik nggak selalu sinkron.

H2: “Kapan Harus Pakai Jasa Pembuatan Website Profesional?”

Gampangnya:

  • lo butuh image bisnis yang proper

  • lo mau website buat jualan

  • lo mau website bisa ranking

  • lo nggak mau ribet teknis

  • lo pengen one-stop service

Kalau cuma butuh halaman portofolio pribadi atau CV digital, silakan pakai template gratis pun sah-sah aja.

Kesalahan Umum Saat Memilih Jasa Buat Website

Ini gue rangkum dari pengalaman lihat puluhan klien gagal:

1. Gangguin harga murah yang terlihat menggiurkan

Murah itu magnet.
Tapi lihat dulu value-nya.

2. Nggak punya brief

Lo harus tau minimal:

  • tujuan website

  • warna brand

  • halaman apa aja

Tanpa ini, vendor cuma nebak-nebak.

3. Terlalu percaya pada “janji SEO”

SEO itu bukan sulap.
Kalau vendor ngomong: “bisa naik dalam seminggu”, biasanya mereka:

  • nggak ngerti SEO

  • atau pakai trik jangka pendek yang riskan

4. Tidak cek fitur mobile

Padahal 80% traffic masuk dari HP.

Checklist Realistis Sebelum Lo Kasih DP ke Vendor

Ini checklist yang gue pakai buat sendiri, super sederhana:

  • website minimal load di bawah 2–3 detik

  • tampilannya rapi, bukan template gratis

  • ada optimasi SEO dasar

  • ada jaminan support minimal 1–3 bulan

  • plugin yang dipakai nggak berantakan

  • ada akses penuh ke dashboard

Kalau 6 checklist ini lolos, aman.

Kalau 3 aja nggak lolos, mending cari lain.

Jadi, Apa Jasa Pembuatan Website Itu “Worth It”?

Menurut gue, iya—kalau websitenya jadi aset bisnis, bukan sekadar halaman pajangan.

Website itu ibarat toko digital:

  • bisa jualan

  • bisa bangun brand

  • bisa scale

  • bisa jadi mesin uang pas lo tidur

Tapi cuma kalau dibangun dengan bener.

Kalau asal-asalan?
Hasilnya cuma jadi “kartu nama online”.

Kesimpulan Singkat, Tanpa Basa-Basi

Kalau lo lagi cari jasa pembuatan website, ingat tiga hal ini:

  1. Jangan cuma lihat harga. Lihat fondasinya.

  2. SEO dan performa itu pondasi, bukan bonus.

  3. Website itu investasi, bukan pengeluaran.

Gue pernah di posisi lo, ngertiin kebingungan lo, sampai akhirnya tau pola yang benar.

Semoga artikel ini ngebantu lo ngambil keputusan yang lebih bijak.

Comments

Popular posts from this blog

Bikin Website Pemula WordPress Realita yang Jarang Dibilang Orang